Pages

DIA

Sunday, October 24

pic from: fakhriprasetyo.blogspot.com/2010/09/wanna-be-dream-bender


Kehadirannya tidak pernah kuperhitungkan. Selama ini dia memang ada. Berlarian di sekitarku. Kadang membawa letupan – letupan emosi dari dalam dirinya yang sering mengejutkanku.

Dia mengisi banyak bagian kosong yang tanpa kusadari butuh banyak pengisi. Aku tidak memintanya, dan dia juga tidak pernah menawarkannya. Dia menambal hati yang patah, menata, membawa nafas baru bagi hati yang hampir mati.

Dia membuat jatuh cinta, menebar asmara. Membuat dunia beralih rupa menjadi surga. Surga untukku. Bukan surganya.

Tanpa disadari dia menjadi begitu berharga. Bagaimana mungkin bisa dipungkiri – dia begitu indah, dia yang tidak pernah bisa teraih.

Bayangannya semakin memudar seiring berdetaknya kehidupan yang ia ciptakan. Seketika dia akan melepas, dan membiarkan kepergian menjemput cinta yang mulai tumbuh. Aku mencarinya ke setiap sudut hatiku, tempat dimana biasa ia menyembunyikan dirinya. Tapi dia tak ada.

“But God I miss the girl,
And I'd go a thousand times around the world just to be
Closer to her than to me.”
( Aubrey – Bread )

Kulihat dia di esok pagi yang hangat, dia yang tetap kucinta – melayang di luar sana bersama hati yang patah. Bukan, bukan hatiku yang bersamanya.


Dia yang akan selalu ada disekitarmu, tanpa bisa kau miliki.

Ocehan Hujan

Saturday, October 23



Kamu tidak tahu betapa berharganya kehadiranku dalam hidupmu. Mungkin kamu yang tidak mau mengakuinya, berkelit – dan terus memungkirinya. Sikapmu kepadaku tidak bisa berbohong lagi. Walau kau coba berulang kali mengingatkan aku, tentang posisiku dalam hidupmu, tapi tanpa kau sadari rasa itu begitu nyata, begitu dekat dengan hatiku.

Aku memang jauh dari semua wanita yang kau impikan, bahkan terlalu berjarak. Bukan tipeku - itu yang selalu kau ungkapkan. Tapi apakah suatu patokan itu harus terpenuhi? Bukankah kenyamanan akan lebih dibutuhkan dalam suatu hubungan?

Terlalu banyak tempatmu singgah di luar sana, tapi aku tahu, bukan mereka tempat perhentianmu. Kau selalu membagikan padaku semua mimpi-mimpimu. Semua harapan yang sebelumnya bahkan tak pernah kau bagi dengan siapapun. Jadi, tak bolehkan aku berharap padamu?

Tampaknya aku harus segera membentengi hatiku, sebelum kamu – logikamu, melukaiku. Tanpa harus melepas pelukan yang selama ini masih berhasil membuatku jatuh cinta padamu.

Semua kegilaan ini berakar padamu.

Jangan pergi.


Menangisi Perpisahan

Thursday, October 7

yah,
semua kisah kita telah berakhir.
walau sebenarnya bukan akhir seperti ini yang aku inginkan.
bukan akhir dimana kita saling membenci,
saling menyakiti,
tapi aku ingin engkau bisa melepasku,
melepaskan setiap jengkal kenangan yang kita miliki,
setiap kebersamaan yang sudah kita lalui.

aku tahu luka yang tercipta sudah terlalu dalam,
walau maafmu selalu terucap,
aku tak bisa,
aku tak bisa bersamamu lagi.
karna bukan kamu orangnya.
bukan kamu yang akan menjadi perhentian terakhirku.
bukan kamu yang bisa membuatku bertahan.

siapa bilang aku tak merasa kehilangan
setelah ribuan hari yang kulalui bersamamu
kalau aku bilang aku baik-baik saja,itu bohong.
aku merindukanmu.
aku merindukan saat-saat aku masih mencintaimu
saat-saat aku meyakini bahwa kita akan selalu bersama
tapi aku tak bisa membohongi perasaanku padamu
tak ada lagi keinginan bertahan,
tak ada rasa memiliki lagi,
salahkah bila rasa itu pergi??


aku hanya tak ingin egois
karna itu aku harus memilih
dan aku memilih
untuk melepasmu
tanpa maksud untuk melukaimu lebih lagi
dan bila aku berjalan bersebrangan denganmu,
biarkanlah aku melaluinya,
karna itu sudah menjadi pilihanku
jangan menjagaiku,
jangan mengharapkanku,

biarkan aku mengejar mimpiku...
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS