Tidak semua berjalan seperti apa yang kau kehendaki. Siap tidak siap kau harus belajar menghadapinya. Belajar untuk terjun lalu basah, bukan hanya terdiam di pinggir sebagai penonton. Pada akhirnya kau akan belajar menyelesaikan masalahmu sendiri. Untuk tetap berpikir kala air mata sudah menggenang di pelupuk matamu, untuk tetap tenang kala emosi sudah memuncak di ubun-ubun.
Jangan terlalu bergantung akan sekitar. Karna tidak setiap saat kau dikelilingi bantuan. Tidak setiap saat kau punya yang diandalkan. Akan tiba saatnya ketika hanya dirimu lah satu-satunya yang bisa kau andalkan. Satu-satunya yang kau percaya.
Kau hanya perlu menarik napas panjang, menyadari keberadaanmu, menyadari situasimu. Biarkan kekosongan mengisi. Tak perlu takut kepayahan, pasti akan ada jalan.
Trouble
Thursday, November 27
Saturday, June 21
Life goes on, people changes, situation changes, and you should makes some move...
Akhirnya setelah sekian lama tidak bermain di sini, saya kembali. Berubah? Tentu tidak. Saya masih seperti yang dulu, masih bermimpi, masih mencari bekal yang bisa saya bawa selama kehidupan saya masih berjalan.
Lalu apa yang baru. Tidak ada yang baru, hanya saja saya lebih bisa mensyukuri hidup saya. Saya menikmati pekerjaan saya, lingkungan saya serta hubungan yang sedang saya bangun.
Terdengar sangat klise apalagi bagi orang-orang yang pernah mengenal saya. Bisa dibilang saya pernah penuh oleh mimpi. Tapi siapa bilang sekarang saya tidak lagi punya mimpi. Mimpi saya masih ada, dan seiring bertambahnya waktu ia makin bertumbuh. Lalu apa bedanya. Bedanya saya menemukan partner yang dapat mengimbangi saya. Ia tidak banyak bermimpi. Ia berpijak pada realita. Hidupnya penuh perhitungan dan logika. Salah kah? Tidak. Ia yang membawa saya untuk mengkalkulasi semua mimpi saya. Membawa mimpi saya lebih dekat dari sekedar impian.
Memang dia tidak sempurna, namun sejauh ini dialah yang melengkapi saya. Dia tidak membunuh, tetapi membawa mimpi saya kedepan mata. Dia yang bersama-sama dengan saya membangun mimpi-mimpi kami, mengkalkulasi setiap kemungkinan dan resiko. Dia yang hidup berpijak pada logika.
Dia yang nyata.
Jadi, apakah saya kehilangan kemampuan bermimpi saya?
Tidak, saya hanya sedang berhitung.
Akhirnya setelah sekian lama tidak bermain di sini, saya kembali. Berubah? Tentu tidak. Saya masih seperti yang dulu, masih bermimpi, masih mencari bekal yang bisa saya bawa selama kehidupan saya masih berjalan.
Lalu apa yang baru. Tidak ada yang baru, hanya saja saya lebih bisa mensyukuri hidup saya. Saya menikmati pekerjaan saya, lingkungan saya serta hubungan yang sedang saya bangun.
Terdengar sangat klise apalagi bagi orang-orang yang pernah mengenal saya. Bisa dibilang saya pernah penuh oleh mimpi. Tapi siapa bilang sekarang saya tidak lagi punya mimpi. Mimpi saya masih ada, dan seiring bertambahnya waktu ia makin bertumbuh. Lalu apa bedanya. Bedanya saya menemukan partner yang dapat mengimbangi saya. Ia tidak banyak bermimpi. Ia berpijak pada realita. Hidupnya penuh perhitungan dan logika. Salah kah? Tidak. Ia yang membawa saya untuk mengkalkulasi semua mimpi saya. Membawa mimpi saya lebih dekat dari sekedar impian.
Memang dia tidak sempurna, namun sejauh ini dialah yang melengkapi saya. Dia tidak membunuh, tetapi membawa mimpi saya kedepan mata. Dia yang bersama-sama dengan saya membangun mimpi-mimpi kami, mengkalkulasi setiap kemungkinan dan resiko. Dia yang hidup berpijak pada logika.
Dia yang nyata.
Jadi, apakah saya kehilangan kemampuan bermimpi saya?
Tidak, saya hanya sedang berhitung.
Subscribe to:
Posts (Atom)