Jadi ceritanya selama 2 hari kemarin (25-26 juni) saya mengikuti workshop penulisan puisi bersama Bapak Sapardi Djoko Damono di Tembi Rumah Budaya. Alasannya cukup sederhana, "ngancani" teman. Di sana saya mendapat banyak sekali pengetahuan baru yang selama ini tidak pernah saya pikirkan. Teknik-teknik berbahasa dan mengolah perasaan sehingga dapat tercipta puisi yang "hebat". Ternyata puisi "hebat" tidak perlu kata-kata yang muluk atau bagi saya-cenderung lebay. Dari pemikiran sederhana pun ternyata bisa membuahkan puisi yang "hebat".
Ya memang dari kecil saya suka nulis puisi, tapi tidak pernah sedikit pun saya berniat untuk serius menggelutinya. Selama ini saya menulis ya hanya untuk kesenangan saya sendiri, atau lebih tepatnya untuk menumpahkan emosi. Saya jarang sekali mem-publish puisi saya, cuma ditulis di blog, lalu dibiarkan saja. Paling sesekali saya baca-baca lagi sambil menertawakan kecengengan saya saat nulis. Kadang kalau puisinya ditujukan untuk seseorang ya dengan malu-malu dipublish link blog nya lewat twitter dan berharap yang baca tidak berkomentar atau pura-pura tidak tahu.
Karna akhir-akhir ini banyak mengalami pergulatan emosi jadi kegiatan menulis puisi saya jadi lebih produktif. Dan tanpa saya sangka-sangka ada beberapa orang yang membaca dan memberikan apresiasi positif terhadap tulisan saya. sekali lagi, saya tidak menyangka, karna selama ini tulisan tersebut hanya sebagai pelampiasan emosi saja, bukan untuk dibaca publik. Jujur saja saya senang, lha wong nggak pernah dipuji orang. Bahkan mungkin orang tua saya sendiri tidak tahu kalau anaknya suka menulis :p. Tapi disamping semua kebahagiaan saya itu juga tersimpan rasa malu dan minder yang belum juga hilang. Saya mau belajar. Saya mau memanfaatkan kesempatan (kedua) ini untuk berkembang.
Semoga masukkan teman-teman bisa membuat saya lebih baik lagi, tidak lantas jadi besar kepala. Biar hidup saya ada gunanya.