Pages

Rencana

Sunday, January 11

Satu dua langkah panjang telah dilampaui. Tidak sekaligus, tapi bisa dianggap lulus. Tidak harus selalu bersama, langkah kita tetap menemukan jalannya.

Tiga ratus enam puluh lima hari yang bahagia, kata mereka. Tiga ratus enam puluh lima hari yang  kulewatkan dengan membiasakan diri. Menerimakan bahwa nyatanya kau tak lagi hadir. Segala upaya kupertaruhkan untuk menghadirkanmu kembali. Kususun lagi puing-puing bahagiaku, dengan harapan kau mau membaginya denganku.

Aku mencoba dan tak henti mencoba. Menyesuaikan apa yang telah terencana. Memastikan segalanya tepat pada porsinya. Bersepakat dengan keyakinan yang tak kunjung menemukan pegangannya.

Esok hari, hitung aku dalam rencanamu. Hitung aku jadi bagian yang kau mau. Bagian yang mungkin tak punya banyak tempat pada prioritasmu, tapi untukku, itulah nyawaku. Satu-satunya harap untuk tetap menghidupkan duniaku.




now listening Rivers and Roads by The Head and The Heart
~And i guess it's just as well,
but i miss your face like hell~

Trouble

Thursday, November 27

Tidak semua berjalan seperti apa yang kau kehendaki. Siap tidak siap kau harus belajar menghadapinya. Belajar untuk terjun lalu basah, bukan hanya terdiam di pinggir sebagai penonton. Pada akhirnya kau akan belajar menyelesaikan masalahmu sendiri. Untuk tetap berpikir kala air mata sudah menggenang di pelupuk matamu, untuk tetap tenang kala emosi sudah memuncak di ubun-ubun.

Jangan terlalu bergantung akan sekitar. Karna tidak setiap saat kau dikelilingi bantuan. Tidak setiap saat kau punya yang diandalkan. Akan tiba saatnya ketika hanya dirimu lah satu-satunya yang bisa kau andalkan. Satu-satunya yang kau percaya.

Kau hanya perlu menarik napas panjang, menyadari keberadaanmu, menyadari situasimu. Biarkan kekosongan mengisi. Tak perlu takut kepayahan, pasti akan ada jalan.



Kalkulasi Mimpi

Saturday, June 21

Life goes on, people changes, situation changes, and you should makes some move...

Akhirnya setelah sekian lama tidak bermain di sini, saya kembali. Berubah? Tentu tidak. Saya masih seperti yang dulu, masih bermimpi, masih mencari bekal yang bisa saya bawa selama kehidupan saya masih berjalan.

Lalu apa yang baru. Tidak ada yang baru, hanya saja saya lebih bisa mensyukuri hidup saya. Saya menikmati pekerjaan saya, lingkungan saya serta hubungan yang sedang saya bangun.

Terdengar sangat klise apalagi bagi orang-orang yang pernah mengenal saya. Bisa dibilang saya pernah penuh oleh mimpi. Tapi siapa bilang sekarang saya tidak lagi punya mimpi. Mimpi saya masih ada, dan seiring bertambahnya waktu ia makin bertumbuh. Lalu apa bedanya. Bedanya saya menemukan partner yang dapat mengimbangi saya. Ia tidak banyak bermimpi. Ia berpijak pada realita. Hidupnya penuh perhitungan dan logika. Salah kah? Tidak. Ia yang membawa saya untuk mengkalkulasi semua mimpi saya. Membawa mimpi saya lebih dekat dari sekedar impian.

Memang dia tidak sempurna, namun sejauh ini dialah yang melengkapi saya. Dia tidak membunuh, tetapi membawa mimpi saya kedepan mata. Dia yang bersama-sama dengan saya membangun mimpi-mimpi kami, mengkalkulasi setiap kemungkinan dan resiko. Dia yang hidup berpijak pada logika.
Dia yang nyata.

Jadi, apakah saya kehilangan kemampuan bermimpi saya?
Tidak, saya hanya sedang berhitung.

Tergila gila

Tuesday, November 5

Helaian rambutnya menyusupi celah-celah jariku. Begitu pekat dan lebat, sepekat malam sebelumnya yang berlalu dalam diam. Aku tak bisa menahan keinginanku untuk terus merasakan wangi tubuhnya, merasakan hadirnya seolah tak ada esok untuk mengulangnya. Tak henti aku mendamba hangat dekapannya. Aku ingin lekat, menikmati setiap detik kesempatan bersamanya.
Tak henti memujanya. Tak henti menggilainya.
Tak ingin selesai,
mencintainya...




Ragu

Berulang kali kamu membunuhku dalam ketidaktahuan.
Berulang kali kamu mengujiku dengan kecemburuan.
Belum cukupkah rasa ini untuk bisa kau yakini?
Atau aku yang tak bisa menjadi yang kau ingini?

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS