seminggu ini pergerakan saya mengalahkan pergerakan gasing maupun kincir angin...
hal itu dikarenakan himpunan saya punya "gawe", dan masalahnya saya merupakan orang yang dipercaya untuk meng-handle '"gawe" tersebut.
acara saya itu seharusnya dimulai pada hari minggu, 18 april, tepat seminggu yang lalu.
tetapi karena ada aral melintang *ciee* jd rencana hari minggu itu batal.
ternyata semua tidak semudah yang saya duga, walaupun keputusan untuk membatalkan acara tersebut sebenarnya juga sudah melalui pertimbangan yang tidak sebentar dan dengan bantuan banyak kepala.
ada salah satu pihak yang merasa dirugikan dengan keputusan yang kami buat.
mereka mengancam *atau mungkin mengatakan,entahlah karna saat itu saya panik* akan membawa masalah ini ke media massa dan akan menuntut kampus kami karna tidak profesional dalam menjalankan kegiatan.
jujur saja, karna posisi saya dalam kegiatan ini sangatlah vital, saya berusaha tidak panik.
tapi apa daya karna belum ada pengalaman dan mental seadanya yang belum pernah teruji, saya panik juga.
saya takut. sangat takut malah.
dari kami berusaha meloby pihak tersebut.namun sayang utusan kami gagal,
dan akhirnya saya sendiri yang turun tangan.
saya berusaha meminimalisir semua akibat yang mungkin terjadi.
saya berusaha meredam amarah mereka.
saya tau saya salah,
atau lebih tepatnya keputusan kami dalam kepanitiaan.
saya diam.
dan tidak ingin semua panitia tahu kejadian ini.
bukannya ingin merahasiakan, tapi saya takut semangat mereka luntur mendengar kabar ini.
akhirnya saya, ketua himpunan, dan koordinator acara tersebut berterus terang kepada pihak kampus dan siap menerima apapun reaksi dari kampus.
setelah beberapa kali menemui pihak kampus, sang koordinator acara ini mutung, dia merasa bukan dia yang memutuskan akan mengambil tindakan yang ujung-ujungnya mencelakakan kami.
dia tidak mau berurusan lagi.
dia tidak mau dipersalahkan, walaupun kami juga tidak menyalahkan siapapun karna ini memang keputusan bersama.
dia marah-marah, menurutnya semua gara-gara saya.gara-gara sata ketuanya dan saya yang memberi pertimbangan final.
saya tahu langkah yang saya ambil salah setelah kejadian,
mungkin kalau saya tidak menjalani keputusan ini pasti saya tidak akan tahu buntutnya akan sepanjang ini.
tapi apakah kita tidak boleh salah?
bagaimana kita bisa berlari jika kita takut jatuh.
dan mungkin kita memang harus jatuh supaya kita tahu bagaimana bangkit itu.
jujur saya tertekan,
banyak dosen yang tahu dan ikut mencerca keputusan buruk saya itu.
saya berusaha sebisa mungkin mengabaikannya.walaupun kadang terasa panas telinga ini.
ada satu pelajaran yang sangat berharga yang saya dapat dari kejadian ini.
bahwa kesuksesan seseorang itu ditentukan dari bagaimana cara orang tersebut menghadapi masalah dan menemukan jalan untuk menyelesaikan dan meminimalisir akibat yang ditimbulkannya..
orang sukses bukanlah orang yang tidak pernah gagal..
tetapi bagaimana kita mengubah kegagalan itu menjadi sebuah keberhasilan.
trimakasih Satria Adhiguna, Lisa Jati Larasbudi Modouw, Febrian Niko Prajawardhana, untuk semua bantuannya di masa sulit
Panji Satria Trihono, untuk waktunya, maaf saya nangis waktu itu :)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment